Histori Pulau Sembur Dihuni Penduduk Tempatan

oleh -595 views
Pelantar Mak Long, dibelakangnya Tanjong Tebeng Merah (Tebing Merah), di Batam ada Makam Merah.

MEDIAALIF.COM, Batam – Pulau Sembur / Dusun Sembur berada di Kelurahan Galang Baru Kecamatan Galang (pada saat ini), dihuni oleh masyarakat tempatan secara turun temurun dan terus menerus, berciri khas Budaya Melayu hidup rukun dan tenang.

Kultur Budaya Melayu itu, tertanam di hati sanubari serta benak maupun logika orang kampong sebagai anak cucu cicitnya. Akan tetapi, masih adakah makhluk di muka bumi ini mengaku sebagai hamba Tuhan, dapat menyangkal jati dirinya berasal dari buah cinta kasih sayang antara ayah dan ibunya..?

Sejak dahulu kala, dalam kesah Kerajaan Semenanjung Melayu Riouw, yaitu YDM Riouw I (Yang Dipertuan Muda Riouw I) Raja Upu Daeng Marewah, pada Abad 17 (1719-1728) Marhom Ulu Riau – Bentan, dan bermulanya kesepakatan Puak Melayu dan Bugis yang di Nobatkan oleh Sultan masa itu.

Serta terbitnya Sumpah Setia (bagian dari suku 6 bathin) antar sesama penduduk, hingga keturunan warisnya YDM Riouw IV Raja Haji Fisabilillah (1777-1784) Marhom Telok Ketapang, menghiasi pelosok negeri.

Tuntunan sumpah setia pun meresap sampai ubun-ubun cucu Adam. Dan seiring berjalannya waktu, kesah perpaduan belahan suku 6 bathin, terasa harum aroma dan auranya, terhimpun oleh Datok Panglima Galang, diantaranya Rempang Cate Kampong Blongkeng (ada Kelapa Bercabang 7), ada Panglima Reteh P.Terong, Amir P. Bulang, dan lainnya.

P.Galang juga dihiasi/dikelilingi, dilindungi oleh historis beberapa Teluk dan Tanjung (Cangkang, Tengayon) sungguh indah..unik Auranya bila ditelusuri atau dirasa dengan jiwa nan tulus, sebab mengandung ciri khas tersendiri, sama persis dengan P.Batam dikelilingi oleh historis makam tua yang berada pada setiap titik sudut penjurunya.

Secara logika hukum akal sehat, posisi Teluk dan Tanjung (Pulau Sembur) itu berada tepat mengarah menuju hamparan laut luas, dan merupakan tempat persinggahan kapal kerajaan maupun pedagang dunia luar membawa barter rempah-rempah, ada pula yang berasimilasi/menetap.

Ciri khas Budaya Melayu sangat kuat jalinanannya, bagaikan batang tubuh manusia dengan urat nadinya yang terbungkus nyawa dan sukma, hidup rukun, harmonis dan beradab, serta sesuai dengan janji/sumpah pada Sila ke 2 Pancasila.

Pulau Sembur – Galang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kesah sakral bernilai historis cukup tinggi, masih terbayang dan terngiang seketika, dalam alur kesah sang Putri 7 bersaudara, berparas cantik jelita, bertutur kata molek berbudi luhur, juga kesah Pulau Penyabung yang berkaitan dengan kesah Sei Jodoh-Sei Harapan, sungai Perigi Batu Tg.Riau yang telah lenyap (Batam).

Pada masa dahulu kala..(bukan cerite upin dan ipin budak nakal banyak akal bulus mencoba bergoyang pinggul), Pulau Galang merupakan Pusat Pertahanan Kerajaan Melayu dan Pulau Penyengat adalah Pusat Pemerintahan.

Kisah bersambong die, semakin tersohor setelah Sultan Mahmud Syah III mempersunting Raja Hamidah dengan gelar kebangsawanan atau timang-timangnya sedari kecil Engku Putri, bermahar P. Penyengat..berdasarkan fakta sejarah Arsip Daerah dan Nasional NKRI.

“Bile dikau ta percaye sila duduk kat laot bawah jembatan, atau ujung Telok dan Tanjong tu..tanye lah sesepuh kampong. Tapi ingat..bile hati busok akal serakah pastilah kualat dan celake..ucapan sesepuh tetue Melayu beberapa waktu lalu.

Kisah singkat Pulau Sembur, juga diungkap oleh para sesepuh tempatan berusia 70 tahun lebih, bahkan ada usianya mencapai 100 tahun lebih (pelosok Galang), juga tetua di P. Penyengat, Bentan, Daik Lingga dan Siak, pada saat penulis media ini melakukan penelusuran lanjutan jejak lintasan historikal Batam (Nov – Des 2020).

Namun akhir-akhir ini ada saja orang yang mengaku-ngaku punya tanah lahan kebun, entah kapan tok nek leluhurnya buka lahan/menggarap lahan, bikin rusoh mengganggu ketenangan penduduk kampong.

Sesepuh Pulau Sembur “Mak Long” dan tokoh tua lainnya mengatakan, kami lahir / duduk disini, pastilah kami tahu selok belok kampong ni. Tapi kalau ada yang mengaku-ngaku die orang sini, sila tunjok kat mana duduk orang tua die. Kalau tak betol pastilah engkau kualat.

“Cakap lah siape tok buyut leluhur engkau biar kami semua pun tahu. Jangan asal cakap saje, jangan suka mengambil hak orang lain. Tanah yang kite pijak ni pastilah gejolak, esok atau lusa kite semua kembali ke asal, bolehlah kat alam kubor kite jumpe,” ucap para tokoh tua senada sambil menatap keangkasa dan merenung ke laot luas.

“Lancang Kuning Lancang nan Sati, Lancangnya Timbul Lancang Pusaka, Sakitnya Pening Kalau Tak Mati, Dialam Kubor Berjumpa Juga,” terasa merinding bulu roma mendengar pituah orang dahulu kala (pantunisasi).

Para sesepuh menambahkan, kami penduduk kampong ni hanya mengakui Alm.bapak Laiho atau Budiyadi (Ayah dari SU alias AP) masa hidupnya sudah mengganti rugi lahan kebun milik warga tempatan dan banyak membantu penduduk kampong.

“Kami ingat betol dulu Zaidi (Saidi) budak nakal selalu kesini same bapak emak die (Alm.Jafar Madun), dan die pandai mengurus surat-surat warga kampong, banyak orang pun tahu karena die anak Kepala Desa,” jelas tetua P.Sembur beberapa hari sebelumnya.

“Ada Api Dalam Sekam
Hanya Tampak Asapnya Saja
Terkesan Durjana Penyulap Tinta
Berakting Mesra Dibelakang Meja,” ucap tokoh P.Sembur. (rmsag)