Air Sei Ladi Keruh dan Menyusut

oleh -418 Dilihat
oleh

MEDIAALIF.COM,Batam – Akhir-akhir belakangan ini, kondisi air Sei Ladi terlihat keruh buteq dan menyusut, bahkan berubah menjadi warna kecoklatan beraroma tanah berlumpur, sehingga menimbulkan tanda tanya besar.

Pada awalnya, informasi air Sei Ladi keruh diketahui dari nelayan tangkap air tawar dan beberapa warga yang mencari ikan dengan cara memancing sekedar untuk lauk dirumahnya.

“Kami terpaksa mancing buat lauk dirumah untuk bertahan hidup dan kasi makan anak-anak supaya ada gizinya pak.. kami sudah menganggur, apa mungkin Pak Walikota Rudi mau mendengarkan menampung keluhan kami…,” ucap mereka, saat ngobrol bersama tim media Alif.com diseputaran Sei Ladi, Rabu (16/2/2022).

“Kawan-kawan pun banyak yang nganggur nih pak…terus harga sembako setinggi langit, minyak goreng dan bansos pilih-pilih, pokoknya kami juga butuh hidup bukan mencuri bukan suap gratifikasi supaya bisa mancing, dan tidak merusak hutan sebab hutan ini diciptakan oleh Tuhan,” keluhan warga lainnya.

Warga tersebut pun bercerita, selama ini air Sei Ladi jernih tidak sekeruh itu, tidak bau lumpur tanah, sambil menunjuk kearah aliran air yang buteq. Kalau airnya kayak gitu, kami pindah tempat lain atau balek ke rumah yang penting ada rejeki dibawa pulang.

“Tapi kami merasa aneh saja, kok bisa airnya berubah, padahal tidak ada hujan lebat berhari-hari atau cuaca panas kemarau. Apa mungkin pohon-pohonnya tumbang karena sudah tua atau lapuk dan tanahnya pun longsor kebawah,” kata warga dengan polos.

Berdasarkan informasi sumber berkompeten di Kota Batam menyampaikan, Sei Ladi memiliki area tangkapan air sebesar 1010,07 hektare, sebagai sumber air baku di Kota Batam, yang dikeliling oleh hutan alami, juga merupakan kawasan hutan yang harus dijaga, dilestarikan keberadaannya.

Demi menjaga keasrian sumber air baku Batam dan melindunginya dari faktor-faktor kerusakan/pencemaran, Pemerintah melalui lembaga yang ada telah melakukan pembendungan yang disebut Waduk Sei Ladi dengan tinggi 22 meter dan panjang bendungan 510 meter, yang dibangun tahun 1985.

Kemudian, pada hari Sabtu (19/2/2022) tim media ini mencoba melakukan penjelajahan (investigasi) dengan cara mengikuti alur aliran air tersebut. Alhasil ditemukan beberapa titik pohon hutan diatas bukit tergeletak tanpa daya, juga terlihat jalan setapak terbuka oleh alat berat bernama bajay berlogo pohon berakar benang. (rm,tsi,akbar)