Pernyataan Resmi Panitia : Ketua PWI Batam Tak Mampu Klarifikasi Pemberitaan

oleh -177 Dilihat
oleh

MEDIAALIF.COM,‎Batam – Panitia Acara Solidaritas Pers Batam yang menggelar forum klarifikasi pers terkait pemberitaan yang dikeluarkan oleh organisasi PWI Kepri dan Batam mengenai “Preman Berkedok Wartawan” gelar konpers.

Pernyataan dalam pemberitaan yang dimunculkan oleh tokoh PWI itu, dikonsumsi masyarakat publik dan menjadi polemik besar dikalangan insan pers, hingga terjadi insiden kericuhan di Ballroom Lavender, Swiss-Belhotel, Harbour Bay, Sabtu 14 Juni 2025.

Atas kejadian tersebut, ‎Ketua Panitia Acara Solidaritas Pers Batam Ali Saragih memberi Pernyataan Resmi tentang kronologi kegiatan, dan meluruskan pemberitaan miring yang menyudutkan pihaknya, Minggu (15/6/2025) di Bengkong Sadai.

‎”Lahirnya acara Solidaritas Pers semalam atas pemberitaan yang disampaikan oleh Ketua PWI Kepri Saibansyah Dardani dengan statmen ‘Kalau bukan wartawan kompeten, bersertifikasi Dewan Pers, itu premanisme berkedok wartawan’. Itu yang kita garis bawahi, ya ! – kata Ali.

‎Atas dasar pemberitaan itu, ucap Ali, wartawan di Batam yang belum Sertifikasi Kompetensi tersentuh dan merasa resah. Maka terbentuklah perkumpulan Solidaritas Pers Batam untuk menjembatani hal-hal yang harus diantisipasi sedini mungkin.

‎Selain itu, ada beberapa pernyataan pemberitaan PWI menjadi sorotan : “Sekolah punya hak untuk menolak wartawan abal-abal, kalau datang membawa nama wartawan tapi kerjanya mengintimidasi. Silahkan tanya : Anda punya Sertifikat Dewan Pers atau tidak ?

‎Kemudian, statemen tambahan dari Ketua PWI Batam, M. Ansyarullah Kahvi Ansyari mengatakan “Kami tidak akan membiarkan profesi wartawan dicemari. PWI Batam berdiri bersama Kepala Sekolah”.

‎Munculnya pernyataan Ketua PWI Batam ini, kata Ali, karena adanya aduan yang disampaikan oleh guru-guru yang merasa terintimidasi oleh wartawan-wartawan yang dianggap tidak berkompeten mengadu kepada organisasi PWI.

‎Ali menyebut bahwa Ketua PWI Kepri, Saibansyah juga menuturkan didalam berita yang sama mengatakan “Jangan biarkan kebohongan dan premanisme berselimut profesi wartawan. Saatnya lawan balik dengan literasi dan keberanian “.

‎Dalam hal ini kita semua sepakat dan menyamakan persepsi untuk memerangi oknum wartawan yang dimaksudkan oleh PWI. Tetapi, statemen ini juga membuat rancu saat teman-teman tugas di lapangan yang mengalami dampaknya, dan tentu perlu dibina secara benar dan baik.

‎Setelah itu, Ali mencoba menghubungi tokoh yang dituakan wartawan senior di Batam, Marganas Nainggolan diharapkan bisa bijak menyikapi polemik yang terjadi. Beliau (Marganas) mengambil alih permasalahan ini untuk diselesaikan dan meningkatkan pemahaman wawasan jurnalistik bagi kita semua.

Akhirnya dikemaslah wadah Solidaritas Pers atau Wartawan Batam dalam agenda penjelasan dan acuan dasar hukum terkait Stateman Pemberitaan PWI di beberapa media online, yang pada awalnya berjalan dengan lancar dan baik.

Saat Ketua PWI Batam berada didepan peserta sekitar 50 awak media yang 90 % punya Sertifikat Dewan Pers dan BNSP RI, juga pers pemula tapi sudah mampu menulis berita liputan dengan baik, Khafi mengatakan bahwa…

..Ucapannya di beberapa sekolah adalah bahasa yang di edukasi kepada guru-guru terkait temuan permasalahan di SMP 26 Batu Aji. Kemudian berkembang sampai menyudutkan rekan media yang belum mengikuti Sertifikasi karena kesibukan waktu maupun biaya.

‎”Itu kan bahasa-bahasa yang diedukasi kepada guru-guru terkait permasalahan yang mereka temukan di SMP 26 Batam,” ucap Kahfi. Kemudian berkembang sampai menyudutkan teman-teman yang belum berkompeten.

“Saat sesi tanya jawab, timbullah perdebatan (terlihat Khafi-Marganas berdiskusi) lantas menolak untuk mengklarifikasi pemberitaannya mengenai yang berkompeten itu seperti apa, dan ujaran kalimat (Sticker) muncul di Sekolah maupun Satgas Ormas akan dibentuk, di Lembaga Pendidikan yang merupakan Dinas Penyelenggara Anggaran Negara. Soal ini ada pihak institusi yang mencermati,” tuturnya.

** Atitude Tutur Kata Ketua PWI Kahfi Tidak Menghargai Peserta Solidaritas (dok.photo diatas) **

Sesi berikutnya, saat Mangapul (Asesor/Sertifikasi BNSP RI) dan Arman Chan berbicara, Khafi berulah dengan sikap dan etika yang tidak menghormati forum mengambil Mic bicara dengan suara nyaring nada tinggi, juga berulang kali memotong pembicaraan moderator, mungkin merasa tertekan atas omongannya sendiri, dan Marganas dipandang sebagai penonton budiman tetap tersenyum.

“Seharusnya sikap seorang jurnalis berkompeten, profesional, berwawasan luas memiliki predikat Utama dapat memberikan contoh yang baik, terutama ingat koridor kode etik jurnalistik dan anjuran UU Pers termaktub. Jadi bukan memutar balikkan fakta, lalu menggiring opini sendiri menyudutkan pihaknya bersama puluhan bahkan ratusan insan pers yang ada di Kota Batam,” terangnya.

** Ada Penyusup Tak Dikenal Tidak Tercatat Panitia Memicu Amarah Peserta Solidaritas **

Perlu diketahui, sebelum acara berakhir ricuh, bahwa ada penyusup tak dikenal tak diundang dan tak tercatat (terditeksi bernama Aini) masuk ruangan, tiba-tiba tampil mengambil Mic panitia lalu berbicara lantang hingga memicu amarah membakar jiwa insan pers selaku peserta acara. Sesungguhnya mana sih preman berkedok wartawan, dan apakah itu contoh terbaik yang dimaksudkan oleh organisasi PWI yang besar, bijak dan teladan..?

“Kami selaku Panitia Penyelenggara Acara Solidaritas Pers/Wartawan Bersatu Batam, mengharapkan semua pihak agar dapat mencermati, menyikapinya dengan pemberitaan yang seimbang, memberi edukasi positif dan baik, serta memahami alur kronologi yang sebenarnya. Kami juga menyadari Batam terjaga tetap kondusif,” tutupnya. (Ls pt rickymorasag)