Jurnalis Bukan Jurkam Menggema di Kota Batam

oleh -341 Dilihat
oleh

MEDIAALIF.COM,Batam – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Batam menggelar diskusi dan deklarasi “Jurnalis Bukan Juru Kampanye” pada Sabtu malam (26/10/2024).

Acara ini menjadi pengingat sekaligus sebagai barometer kepada seluruh Jurnalis di Kepri, agar tetap menjaga independensi dan tidak terlibat dalam kegiatan kampanye politik pada salah satu paslon tertentu.

Di bawah bulan sabit yang merasa malu-malu menampilkan aura sentuhan sinarnya, acara berlangsung sederhana, di halaman Sekretarian AJI Kota Batam.

Sebelum deklarasi, acara dimulai dengan diskusi bersama tiga pematintik atau pemateri yaitu, Majelis Pertimbangan dan Legislasi (MPL) AJI Kota Batam Slamet Widodo, Koordinator Wilayah Ikatan Jurnalis Televisi Indoneisa (IJTI) Gusti Yennosa, dan Anggota Bawaslu Kota Batam Jazuli.

Gusti Yennosa membuka diskusi dengan kondisi keberpihakan Jurnalis, membuat resah dirinya secara pribadi tetapi juga sudah dirasakan jurnalis-jurnalis muda lainnya di Batam.

“Kondisi ini menjadi contoh tidak baik untuk jurnalis muda yang ada di Batam ini. Seharusnya para senior maupun tokoh pendiri Assosiasi yang mengayomi insan pers (anggotanya) dapat memberi pembekalan tentang nafas seorang penulis dan tupoksi Jurnalis secara profesional,” kata Gusti.

“IJTI punya aturan tegas kepada jurnalis yang menjadi juru kampanye atau tim sukses. Kalau ketahuan langsung dicabut ke anggotaannya,” tegas Gusti.

Seorang Jurnalis Kartini yang akrab disapa Ocha, meminta kepada seluruh awak media terutama jurnalis senior, agar memberikan contoh terbaik kepada jurnalis muda.

“Memang tdak ada sanksi mengikat untuk kita semua, akan tetapi hal ini kembali kepada diri sendiri. Kalau mau berkampanye silakan lepas status jurnalis,” ujar Ocha.

Hal senada juga disampaikan oleh Slamet Widodo, bahwa acara diskusi dan deklarasi ini bentuk koreksi kepada diri sendiri oleh rekan-rekan jurnalis. Tidak hanya untuk pelaku yang menjadi juru kampanye, tetapi juga kepada kita yang hadir disini.

“Kita tau kondisi bisnis media sekarang dalam keadaan tidak baik-baik saja, tetapi kita berharap independen itu menjadi yang paling utama,” katanya.

Jurnalis senior yang punya sebutan kereen “Dodo” menegaskan, bahwa tugas jurnalis adalah untuk kebenaran, dan kebenaran itu untuk kepentingan publik.

“Kita tau ada iklan paslon tertentu kepada media, tetapi jangan sampai publik tidak bisa membedakan antara iklan dan berita. Itu yang disebut media harus menjaga garis api atau ada batasannya,” papar Dodo.

AJI, kata Dodo, punya aturan tegas tentang perilaku jurnalis agar tidak menjadi juru kampanye atau tim sukses.

Sementara itu, Jazuli, menegaskan, peran Bawaslu sebagai pengawas, pencegah, hingga penindak dalam proses Pemilu. Menurutnya, kolaborasi dengan jurnalis memiliki peran penting dalam mengedukasi masyarakat tentang demokrasi yang sehat.

“Ini adalah suntikan luar biasa dari jurnalis untuk mengedukasi masyarakat. Jurnalis membantu masyarakat memahami cara berdemokrasi yang baik,” ujar dia.

Jazuli menambahkan, tidak hanya jurnalis, Bawaslu juga punya kode etik yang harus di junjung tinggi. Kita memang punya sikap pribadi, tetapi ada kode etik yang mengatur kita.

Sekretaris AJI Batam Fathur Rohim, menyebut diskusi dan deklarasi ini dilatar belakangi oleh keprihatinan terhadap fenomena jurnalis yang terlibat dalam kampanye politik tanpa melepaskan peran jurnalistiknya. Hal ini dapat merugikan masyarakat yang membutuhkan informasi akurat dan tidak bias.

“Jika jurnalis berperan sebagai juru kampanye, masyarakat tidak menerima informasi dengan objektif,” ungkapnya.

Ia juga menekankan, dinamika politik di berbagai daerah turut mempengaruhi tingkat independensi jurnalis. AJI Batam berharap gerakan deklarasi semacam ini dapat menjadi pendorong bersama mengembalikan peran jurnalis sebagai pelayan publik.

Setelah pemaparan dari narasumber, kegiatan dilanjutkan dengan penandatanganan dan pembacaan deklarasi “Jurnalis Bukan Juru Kampanye” oleh perwakilan masing-masing organisasi. (sekret)