Plafon Mesjid Tanjak Runtuh Akibat Spekulasi Material

oleh -306 Dilihat
oleh

MEDIAALIF.COM,Batam – Terkait runtuhnya plafon Mesjid Tanjak, berapakah nilai bagi-bagi rejeki Anak Soleh yang turut serta mengikuti arena pertarungan tender proyek yang memukau dan bikin heboh Bumi Melayu khususnya Kota Batam.

Atau oknum yang dipercaya mensukseskannya kurang cermat dalam proses over proyek berupa subcon ketiban durian runtuh, yang tidak merasa memiliki job tersebut selain dari bisnis semata.

Sehingga atas kelalaian itu, Plafon Mesjid Tanjak terkesan megah, canggih berkualitas tinggi berusia seumur jagung Runtuh tak berdaya akibat adanya spekulasi material.

Hal tersebut disampaikan oleh Paul Lein selaku Aktivis pemerhati lingkungan sosial, saat ditemui oleh redaksi media ini dibilangan Nagoya, Minggu (11/9/22) malam.

Paul Lein berujar, meskipun masih dalam tahap perawatan, namun alangkah bijaknya Aparat Penegak Hukum menyelidiki peristiwa itu sebab menggunakan Anggaran PNBP senilai Rp 39.937.665.520,- dan sesuai maklumat Kapolri yakni Polri yang Presisi.

“Coba tunjukkan sama saya, siapa yang berani dan dapat menyangkalnya bahwa Plafon Mesjid tempat ibadah umat Islam Runtuh sedemikian hebatnya disebabkan oleh faktor spekulasi material atau korupsi bahan material. Dan saat ini umat Islam tidak dapat menunaikan sholat berjamaah, merasa dirugikan tidak..? ,” tuturnya

Terlepas dari nilai bagi-bagi proyek, kata Paul, itu merupakan tanggung jawab moral khususnya Pejabat/PPK BP Batam yang punya nama besar tapi terkesan kerdil ilmu etikanya, serta konsultan kontraktor pilihan merasa pintar tapi bodoh serakah pula, bikin malu orang Batam saja.

“Pak Rudi itu orang baik loh, ilmu sosial kemanusiaannya sangat tinggi dan masih mau turun langsung kelapangan jemput bola dengan baik. Mungkin saja ini ulah orang-orang yang mengambil kesempatan saat beliau sangat sibuk. Semoga progress perawatan cepat selesai, jangan bikin malu lagi,” tegas Paul Lein.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Keluarga Cilacap Batam Tino Sukirno menyatakan, sangat menyesalkan hal itu bisa terjadi di kota besar sehebat Batam. Manfaatkanlah SDM lokal juga punya kualitas, perlu diberi perhatian / kesempatan untuk membangun negerinya sendiri.

“Minimal SDM lokal bisa merasa memiliki, ini loh Icon Kota Batam. Tapi kalau pemborong atau kontraktor dari luar semata-mata hanya mencari keuntungan, tentu tidak berfikir efeknya. Jadi bukan sekedar masa perawatan demi kepentingan pribadi serta golongannya saja,” jelas Tino. (rmsag)