Nikmatnya Reklamasi Area Bibir Laut di Batam

oleh -206 views

MEDIAALIF.COM,Batam – Puluhan orang kampong masyarakat nelayan mengeluhkan dan merasa terzholimi oleh hadirnya aktifitas Reklamasi bibir laut di wilayah DAM Duriangkang, sehingga mengakibatkan hasil tangkapan laut jauh berkurang.

Reklamasi bibir laut terkesan indah dan nikmat untuk pembangunan oleh pemilik kebijakan yang cerdas berakal lurus dan berwajah bening bagaikan sebuah kaca rumah janda, sehingga menciptakan lingkaran Police Line Area dalam desas-desus informasi gedung Bida Batam Center.

Terkait pemanfaatan Hutan Lindung (KPHL Batam) pada Reklamasi merupakan wajib PNBP disetorkan kepada Negara RI, dan seberapa besar upaya yang telah dilaksanakan Pemerintah setempat berdasarkan UU Tata Ruang Hutan Lindung di Kota Batam, atau berapa persen hak pengelolaan dan pelestarian.

Sebelumnya, area tersebut merupakan hamparan hijau hutan lindung penyangga, Hutan Bakau yang luas tempat berkumpul dan berkembang biak hewan laut, seperti ketam, ikan dan udang.

Akan tetapi, tiba-tiba muncul sang pengusaha dengan pangkat Investor dermawan berhati mulia, namun telah merusak menghilangkan gugusan Hutan Bakau produksi alam sebagai sumber kehidupan nelayan pesisir disekitar alur laut yang saling bertautan.

Keluhan dan rasa tersakiti tersebut disampaikan oleh warga pesisir Tg.Piayu Laut termasuk Piayu Bagan, ucapan orang kampong yang disaring kedalam bahasa penulisan, kepada Redaksi Media Alif.com berdomisili di Ruko Cikitsu Batam Kota, Senin (18/1/2022).

“Selama 2 tahun kami menanti perhatian dan iktikad baik dari pihak pengelola/pengusaha yang beraktifitas me-reklamasi bibir laut persis didepan mata pos penjagaan Direktorat Pengamanan Aset BP Batam,” ucap Rusli mewakili masyarakat nelayan.

Rusli merupakan pengurus HNSI Kecamatan Sei Beduk bersama Tok Awang Kecik menjelaskan, kami sudah menyampaikan surat melalui Ketua HNSI Kota Batam, dan sudah dilakukan pertemuan namun hanya janji harapan palsu yang kami dapatkan.

“Sampai kapan kami penduduk hinterland pesisir Negeri Melayu harus menunggu dan bertahan menghidupi keluarga dari hasil laut, sementara sumber hidup mata pencaharian kami telah dirusak dan hilang,” ucap nelayan.

“Bagaimana sebaliknya, bila periok nasi dan lauk pauk lezat bergizi tinggi yang bapak sekeluarga nikmati diganggu dirusak orang lain, bisakah bapak rasakan bathin keluarga kami, meskipun kami hanya orang kecil tapi kami bukan pembual manis di mulut,” ketus mereka.

Masyarakat nelayan berdoa, “Pak Menteri dan Kapolda Kepri, salahkah bila kami berkumpul bersama keluarga anak dan cucu bersilaturahmi untuk mendukung pembangunan yang telah berhasil menyakiti bathin kami, semoga Tuhan YME melindungi bapak dalam beraktifitas sehari-hari, dan khususnya kepada pengusaha orang-orang dermawan dilimpahkan rejeki kesehatan hingga ke tulang sumsumnya, Amiin.” (tsi akbar)