Museum Raja Ali Haji Lambang Kearifan Lokal Kota Batam

oleh -290 views

MEDIAALIF.COM, Batam – Bersampena Hari Museum Nasional ke 59, pada hari Rabu (12/10/2021), Museum Raja Ali Haji Kota Batam tampil menyemarakkannya dengan beberapa bentuk kegiatan yang molek dan mengesankan.

Perhelatan museum Raja Ali Haji dihadiri oleh Wakil Walikota Batam Amsakar Achmad, Sekda Jefridin Hamid, dan sejumlah tokoh Melayu serta tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Amsakar mengucapkan Selamat Hari Museum Nasional ke 59 dan Hari Jadi Museum Raja Ali Haji Kota Batam yang jatuh pada 10 Oktober. Dengan rentang waktu singkat, museum kita sudah dikunjungi wisatawan, diantaranya oleh Atase Militer Negara sahabat (21 Negara – 23/06/2021) lalu.

“Meski sudah bagus, namun perlu diperkaya lagi isi dan koleksinya. Kerja keras tim selama ini patut diapresiasi, dan Pemko Batam menyambut baik serta mendukung programnya termasuk usulan hari jadi museum jatuh pada tanggal 10 Oktober,” ucap Wawako.

Pria gesit dan energik yang berasal dari Dabo Lingga itu menambahkan, Museum Raja Ali Haji merupakan Lambang Kearifan Lokal Kota Batam yang mengandung kultur kehidupan masyarakat Melayu berupa adat istiadat etika budi pekerti, dan sikap tutur kata saling menghargai tak lekang sejak dulu kala.

“Berdasarkan instruksi Walikota Batam M.Rudi dan direspon oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, juga Kemendikbud Ristek, museum kita pun dapat didirikan. Batam ingin mempresentasekan budaya dan historicalnya / sejarahnya melalui museum,” jelasnya.

Kemudian, Ardiwinata Kepala Disbudpar Batam, dalam laporannya mengatakan, upaya kerja keras tim yang telah dilakukan yaitu berupa kegiatan rutinitas dan persiapan demi persiapan menjelang hari H.

“Pada Hari Museum Nasional ini, museum Batam menampilkan kegiatan, diantaranya seni tari budaya melayu, batik, lomba baca puisi, fotografi dan pemberian bantuan sembako,” kata Ardiwinata.

Usai acara, Amsakar pun bercerite dihadapan awak media tentang sekelumit kisah Kesultanan Melayu atau Sultan yang menitahkan kepada Raja Melayu, seperti masa YDM Riouw ke X Raja Muhammad Yusuf Al-Ahmadi (1858-1899) yang digelar Wali Kutub juga sebagai pendiri Mesjid Penyengat Riouw serta Imam Penyengat Riouw terakhir / Titahnya yakni “Jang Moelia Radja Haji Ahmad Bin Radja Oemar” sesuai data fakta Prasasti dan usut asal penulisan sejarah.

“Makam Raja Mhd. Yusuf juga disebut Makam Merah sejak dulu sampai sekarang. Sementara di Batam ada juga makam merah atau Panglima Merah, Panglima Sambauw, Panglima Utama atau Tama yang hidupnya berkelana namun selalu mendampingi sang Putri nan jelita hingga akhir hayatnya di wilayah Nongsa,” terang Amsakar.

Orang Melayu dari Sei Buluh dan selalu tersenyum itu menambahkan, kisah Sei Jodoh yang bersambung ke Sei Harapan (makam Perigi Batu Tg.Riau) hingga berlanjut ke Pulau Penyabung yakni pertarungan maut antar sesama pendekar sakti memperebutkan sang Putri dan wilayah kekuasaan, merupakan histori Batam yang dikelilingi Teluk dan Tanjung serta makam tua yang menjaga Bumi Melayu.

“Kalau ta salah masih banyak makam tua para Raja / Pendekar maupun Tun Habib atau tuan guru (Syeikh) membawa syiar Islam jauh sebelum Belanda masuk ke Nusantara, yakni diwilayah Kabil, Piayu Bagan, Sekupang, mesjid Baitusyakur dan Sagulung Batu Aji. Semuanya itu harus kita lestarikan sebab bisa jadi ada cagar budaya di dalamnya,” ungkap Wawako Batam.

Dalam waktu seketika, awak media pun terkesima dan termangu-mangu khususnya tamu yang turut mendengarkan cuplikan wawasan sejarah budaya kultur kehidupan Melayu masa silam hingga di Batam.

Namun, Tuah dan Ruhnya terasa terpisah, sebab histori tersebut masih pada Abad 17 – 18 belum dibawahnya Abad 14 s/d 16, dalam runutannya Kesultanan Johor Pahang Malaka Riouw Lingga sampai ke negara lainnya (kisah Tengku Putih dan Tengku Hitam, Hang Tuah Hang Jebat, Panglima Daek, Radja /Datuk Megat Elang Laot, Panglima Galang, dituturkan oleh Amsakar Achmad. (rmsag, tmi, akbar)